Cuma di Lombok! Cacing Laut Diburu dan Dimakan

November 5, 2017
2 min read

Bau nyale yang merupakan salah satu event budaya yang setiap tahun diadakan di Pantai Seger, Lombok Tengah dan sekitarnya selalu mampu menarik ribuan warga dari berbagai daerah di Indonesia hingga dunia.

Bukan tanpa alasan banyak masyarakat yang berbondong-bondong memburu nyale hingga ke tengah laut.

Selain karena rasanya yang enak dijadikan lauk, banyak yang memburu nyale juga untuk memanfaatkannya sebagai penyubur tanah pertanian dan ada juga masyarakat yang memburu nyale untuk kemudian dijual.

Bagi masyarakat Lombok Tengah dan sekitarnya, nyale yang sudah ditangkap dijadikan santapan. Nyale biasanya dibuat menjadi lauk dengan cara dipepes terlebih dahulu untuk mengeringkan kandungan airnya lalu kemudian nyale yang sudah dipepes kering digoreng dengan bumbu khas.

Saya pernah mencoba nyale semacam ini, dan menurut saya rasanya agak aneh tapi rasanya mirip-mirip seperti ikan teri dan sejenis ikan asin lainnya.

Namun, bagi mereka yang sudah terbiasa memakan nyale, rasanya tentu enak-enak saja. Jika dilihat secara ilmiah, cacing jenis ini mengandung protein hewani yang sangat tinggi.

Selain sebagai santapan, nyale juga dipercaya oleh masyarakat mampu menyuburkan tanah.

Oleh karena itu banyak masyarakat yang memburu nyale dan menebarnya ke sawah mereka dengan keyakinan bahwa nyale tersebut dapat menambah kesuburan tanah dan meningkatkan hasil pertanian penduduk.

Tidak hanya itu, nyale ini pun oleh warga sekitar dijual kepada para pengunjung yang datang ke perayaan bau nyale.

Biasanya di tengah hiruk-pikuk warga yang tengah pulang dari core event bau nyale itu dimanfaatkan oleh sejumlah ibu-ibu untuk berjualan nyale di piggir jalan di sekitar Pantai Kute, Lombok Tengah. Para penjual nyale musiman  ini berjejer menjajakan nyale hasil tangkapannya.

Melihat banyak warga yang mencari nyale untuk dibawa pulang dan dikonsumsi, para ibu-ibu tersebut memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berjualan.

Para pedagang nyale ini menjual  cacing laut tersebut dengan harga yang bervariasi yaitu sekitar 15 ribu hingga 20 ribu rupiah untuk setiap setengah kantong plastik nyale.

Namun untuk nyale yang sudah dibersihkan harga yang ditawarkan pun lebih mahal yaitu sekitar 50 ribu hingga ratusan ribu rupiah. Sejumlah pedagang mengaku hasil menjual nyale tersebut dapat digunakan untuk mencukupi  kebutuhan sehari hari mereka dan keluarganya.

See? Pengorbanan sang putri merelakan diri tertelan gelombang laut pun nampaknya tidak sia-sia. Munculnya nyale pasca tenggelamnya Putri Mandalika yang dipercaya sebagai jelmaan sang putri nyatanya mendatangkan berkah.

Wanna experience what does “nyale” taste? So, what are you waiting for? Come to Lombok, join the event. But first, book the ticket here!