Berendam di Telaga Air Panas Rinjani

Agustus 26, 2017
3 min read

Gunung Rinjani, gunung tertinggi ketiga di Indonesia ini menjadi magnet cukup kuat yang mampu menarik para pejalan untuk berkunjung ke Lombok.

Ribuan pejalan datang setiap tahunnya untuk menikmati indahnya Rinjani.

Tidak hanya gunung dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (MDPL) yang menjadi daya tarik utama di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) ini, tapi banyak daya tarik lainnya yang bisa dinikmati para pejalan.

Salah satunya adalah telaga air panas yang lokasinya tak jauh dari Segara Anak.

Untuk menuju telaga air panas ini, rutenya harus melakukan pendakian dari beberapa jalur yang telah ditetapkan Balai TNGR NTB yaitu Sembalun Lawang dan Senaru.

Biasanya pendaki dari mancanegara tujuan utamanya adalah puncak Rinjani.

Baru setelah turun dari puncak Rinjani, mereka kemudian turun ke Danau Segara Anak yang bisa ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam, tergantung kemampuan masing-masing orang untuk melewati trek ke Segara Anak.

Jika pendaki memilih berangkat lewat jalur Senaru, mereka akan berkemah atau rehat sejenak di sekitar Danau Segara Anak, baru kemudian mereka akan berangkat ke pelawangan Sembalun untuk menuju puncak Rinjani.

Dan nantinya mereka memilih pulang melalui jalur Sembalun. Jika naik dari jalur Sembalun, bisanya para pendaki memilih pulang melalui jalur Senaru jika ingin menikmati panorama Segara Anak yang di seberangnya terdapat Gunung Baru Jari.

Telaga air panas banyak didatangi pendaki untuk istirahat sejenak dengan beredam dan meluruskan otot setelah tenaga terkuras selama melakukan pendakian yang sangat melelahkan.

Para pendaki biasanya berendam disana selama 30 menit. Walaupun sumber airnya dari Danau Segara Anak, tapi tingkat kehangatan dari air di telaga ini berbeda-beda. Ada yang hangat dan cukup panas.

Guide yang memandu perjalanan saya dan beberapa teman beberapa waktu lalu menceritakan beberapa waktu lalu ada telaga yang airnya sangat panas.

Bahkan konon telur bisa matang jika diletakkan di air tersebut dan santanpun akan berubah jadi minyak. Tapi sayang telaga dengan air sangat panas tersebut telah menghilang akibat longsor di kawasan itu.

Telaga air panas ini letaknya sekitar 1 kilometer dari danau Segara Anak. Jika bertandang ke telaga ini, kita harus melewati jalan setapak yang dipenuhi ilalang.

Letak telaga ini agak menjorok ke bawah, di dekat air terjun. Di sekitar air terjun, beberapa pendaki yang merupakan warga lokal membuat kemah seadanya dari terpal.

Untuk menghalau dinginnya udara pegunungan, pada malam hari biasanya mereka berendam di telaga air panas, bahkan mereka juga sampai tertidur disana.

Saya dan beberapa teman pun mencoba berendam di telaga air panas dengan niat untuk menghilangkan pegal di kaki akibat perjalanan yang sangat melelahkan.

Air di telaga paling bawah suhunya tidak terlalu panas, dibandingkan dengan telaga di bagian atas yang sekali sentuh terasa sangat panas. Airnya pun menggelegak seperti air yang sedang mendidih.

Setelah berendam, tubuh menjadi lebih rileks dan pegal-pegal di kaki dan badan menjadi berkurang.

Air ini lebih panas dari telaga di bawahnya. Terlihat mengeluarkan buih seperti mendidih

Orang-orang lokal lebih banyak mendaki ke Rinjani hanya untuk menikmati air panas. Mereka datang niatnya untuk berobat dengan berendam di air panas belerang tersebut.

Dengan harapan setelah berendam badan mereka menjadi lebih bugar dan sehat.

Berbeda dengan wisatawan asing maupun domestik yang biasanya trekking ke Rinjani tujuan utamanya adalah menaklukkan puncak Rinjani dan menikmati indahnya Segara Anak.