Lambung dan Dodot – Busana Adat Sasak Lombok.

Desember 17, 2017
3 min read

Seperti daerah lainnya di Indonesia, Lombok dengan suku terbesarnya Sasak, juga memiliki busana adat. Busana khas yang dikenakan di beberapa acara adat, seperti pernikahan, resepsi sunatan anak lelaki, perisean atau acara-acara adat khusus yang diadakan pemerintah di momen Bulan Budaya.

Apa saja kelengkapan Busana Adat Sasak?

Untuk perempuan, mulai dari rambut sampai ujung kaki, dimulai dari pola sanggul yang disebut Punjung Pliset. Sanggul yang kemudian dihias dengan onggar-onggar, atau tusuk konde emas dengan bunga diujungnya yang tak henti bergoyang di setiap gerak sang gadis Sasak.

Asesoris lainnya berupa anting keong jepit bernuansa emas (jiwang-Sasak). Ada juga Pendit, sabuk dari perak serta Ketip (uang emas) yang dirangkai menjadi kalung atau bros.

Untuk pakaian, busana utama disebut Tangkong atau Lambung. Biasanya dibuat dari bahan kain brokat atau beludru berwarna gelap. Pola jahitan sederhana berbentuk segiempat, sehingga ketika dikenakan, bagian tengah baju menjadi agak terangkat.

Memperlihatkan sedikit bagian perut atau punggung bawah pemakai. Namun, saat ini sudah mulai biasa menutup sempurna bagian ini, baik dengan sabuk pengikat kain atau manset untuk yang berhijab.

Selendang atau lempot dikenakan bisa dengan membentuknya segaris dengan pola jahit bagian leher yang berbentuk ā€˜Vā€™ atau disampirkan di bahu.

Kain (kereng-Sasak) yang dikenakan bisa berupa Songket berwarna gelap dengan benang emas atau pola-pola tenun bernuansa cerah yang jamaknya dikenakan para dedare (gadis remaja) Lombok.

Dikuatkan dengan selendang kecil yang dibebat di bagian perut dengan ujungnya menjuntai. Kain dikenakan biasanya hanya sampai bagian tengah betis, tidak sampai menutupi seluruh bagian kaki.

Untuk lelaki, dimulai dengan Capuq atau Sapuk, pengikat kepala.
Baju Pegon atau kemeja berwarna gelap dengan bagian belakang bawah dijahit terbuka untuk menyelipkan keris atau Pemaje (pisau kecil untuk meraut).

Kain (Leang atau Dodot-Sasak) juga dikenakan sebatas dengkul. Motif tenun untuk kain luar ini biasanya bermotif Subahnale, Keker atau Bintang Empet. Untuk kain bagian dalam sendiri, motif tenunnya biasanya Serat Penginang, dikenakan dengan ujung kain dibentuk terlipat menghadap bawah.

Selain di acara-acara adat, parade para dedare dan bajang (anak lelaki muda Sasak) atau para siswa-siswi SD mengenakan Lambung juga Dodot bisa disaksikan di pawai tujuh belasan agustus. Biasanya berlangsung hampir di semua kota besar di Lombok setiap 16 Agustus.

Bagaimanapun, mengingat pulau Lombok sendiri juga didiami beberapa suku besar lainnya seperti Bali, Sumbawa dan Bima, di setiap pawai-pawai adat juga akan bisa disaksikan beberapa busana adat tiga suku besar ini.

Bahkan, di beberapa kesempatan, jalanan raya di kota Mataram, atau kota-kota besar seperti Sumbawa, Bima dan Dompu, kita bisa menyaksikan beberapa acara adat dengan pakaian khas untuk momen khusus tersebut. Seperti yang saya rekam di dua foto berikut: