Liburan di Desa Yuk! Escaping and Cultural Learning. Why Not?

Januari 4, 2018
4 min read

Rutinitas seringkali membosankan. Itu dia mengapa ada istilah weekend. Setelah lima atau enam hari kerja, maka weekend menjadi semacam jeda untuk melepas penat.

Bagi sebagian orang, weekend bisa berarti tidur seharian. Ada juga yang memilihi untuk quality time bareng keluarga.

Me time dengan solo travel. Nongkrong bareng sahabat.. and the list goes on and on. You are the one who decides!

Belakangan, saya sering menghabiskan weekend dengan liburan di desa.

Bagi saya, liburan adalah menjauh dari pusat keramaian–escaping–. Selain nonton di bioskop atau di toko buku, maka jangan harap bisa bertemu saya di pusat-pusat keramaian saat weekend.

Hehehe… I know it sounds like I am an artist, yeah!

Beberapa waktu lalu, saya menghabiskan weekend dengan liburan di desa, di rumah seorang Sahabat.

Tepatnya di desa Ganti, kecamatan Praya Timur. Cuaca yang kurang bersahabat, mendung disertai gerimis kecil, tak menghalangi kami untuk tetap berangkat.

Di Lombok juga bisa nyobain rafting lho!: Wisata Lombok Rafting

Sebagai suku Sasak berdarah campuran (Lombok Tengah-Lombok Barat), pengetahuan saya tentang budaya Sasak terbilang masih sangat minim.

Saya tahu dari cerita, namun tak cukup banyak yang saya saksikan langsung. Itu dia mengapa saya selalu excited setiap ada yang mengajak saya jalan-jalan ke kampung.

Di beberapa daerah di pulau Lombok, budaya dan adat masih sangat kental. Tidak hanya sebatas cerita, namun dalam tataran praktik. Adat ini terkadang bersifat mengikat; individu, keluarga, dan masyarakat itu sendiri.

Kebetulan sekali, sahabat saya ini berasal dari keluarga Baiq-Lalu. Golongan darah biru a.k.a bangsawan-nya suku Sasak.

Baiq adalah istilah atau sebutan keturunan bangsawan dari keluarga kerajaan untuk perempuan dan Lalu sebutan untuk laki-laki.

Wah, ternyata liburan di desa kali ini bukan liburan biasa. Paman dari sahabat saya ini adalah seorang pemangku adat.

You know then how it goes! Kami diajak berkunjung ke rumahnya di Jurang Ganti, masih di desa yang sama, desa Ganti.

Berugak Lombok!

Sampai disana, rasa-rasanya tidak ada yang terlalu istimewa. Ada berugaq sekenem dan sebuah bangunan kecil yang mirip lumbung, lebih kecil tepatnya.

Tepat seperti yang saya duga, dibalik sesuatu yang tampaknya biasa-biasa saja itu, ada cerita yang spesial.

Buktinya, saya baru tahu, bahwa di kampung-kampung, berugaq Sekenem menjadi tempat dimana ritual adat dilakukan.

Misalnya, setelah perayaan Maulid Lombok di masjid yang diisi dengan doa-doa, selanjutnya akan disusul dengan agenda adat yang digelar di sekenem.

Begitupun dengan ritual-ritual lainnya.

Saya sedikit penasaran. Apakah berugak sekenem ini sama saja dengan berugaq sekenem lainnya? Ternyata berbeda pemirsah! Ada plang penanda bertuliskan aksara kuno.

Selain itu, tiga tiang di bagian tengah masing-masing memiliki ukiran hewan; ikan, singa dan naga.

Ukiran di tiang berugak!

Di dekat berugak sekenem berdiri bangunan kecil berukuran 2X2 meter yang mirip dengan bangunan lumbung padi itu.

Namanya, sekepat agung selangan panigare. Unik? Yes, sayapun baru tahu! Bentuknya memang biasa saja, namun fungsinya sangat sakral.

Tempat penyimpanan benda pusaka

Bangunan ini merupakan tempat dimana penyimpanan benda-benda pusaka yang diyakini masyarakat memiliki nilai historis dan magis.

Kebanyakan isinya adalah keris peninggalan nenek moyang. Sayangnya saya tak bisa masuk melihat karena keris akan dikeluarkan ketika acara maulid adat digelar, dan memandikan keris merupakan rangkaian dari acara tersebut.

Ternyata keris tak hanya milik suku Jawa. Suku Sasak juga punya, meski tak ada empu-nya (si pembuat keris, hehehe).

Memandikan keris selain menjadi bentuk penghormatan terhadap pusaka leluhur, juga semacam pembersihan diri. Well, membuat keris tidak semudah yang kita pikirkan.

Sehingga orang yang menadikan keris tersebut dapat merasakan nilai-nilai spiritual yang ada dalam proses hingga hadirnya keris tersebut.

Harapannya tentu agar nilai-nilai positif seperti kesabaran, keberanian, ketelitian, ikut turun pada mereka turunan leluhur tersebut.

Hemmm…tadinya saya pikir maulid adat hanya ada di Bayan, Lombok Utara. Ternyata Lombok Tengah pun punya ritualnya sendiri.

Serunya, masyarakat dari berbagai desa akan datang berbondong-bondong untuk menyaksikan ritual ini. Well, it’s gonna be on other post, I guess.

Liburan di desa dijamin nggak bikin boring. Bisa escaping sambil belajar budaya. Yang penting enjoy aja! Jadi, kamu kapan ke Lombok?

Baca Juga: Sejarah Pulau Lombok dan Kerajaannya