Melongok Horison dari Bukit Tunak Lombok Tengah

In Pujut
Mei 2, 2017
3 min read

Hari minggu, Matahari bersinar penuh tanpa ada gumpalan awan hitam menghadang. tak ada  satu pun pertanda akan turunnya hujan. Its time for holiday! tapi mau ke mana ya asyiknya? *berpikir.. berpikir..! Ke air terjun, udah keseringan.

Naik gunung, gak mungkin. teringat potongan lirik dari salah satu hit  Group band Radja “Ke Laut Aja!”. ok.. terimakasih om Ian Kasela atas rekomendasinya.

Akhir-akhir ini kepala lagi mumet sama kerjaan yang tumpukannya makin membukit. untuk itulah hari ini aku ingin melarikan dari realita ini ke Bukit tunak sambil melongok horison di birunya laut selatan.

Emang sih lokasinya jauh banget dari tempat tinggalku di Mataram. tapi, itu malah bagus karena makin jauh otak makin plong.

Bukit tunak ini berada di belahan selatan bumi lombok, berdiri kokoh di atas garangnya hempasan ombak laut selatan. Desa Mertaq kecamatan pujut adalah wilayah pemerintahan yang patut bersyukur karena dianugerahi aset keindahan alam seperti bukit tunak ini.

Bayangkan berapa pendapatan daerah yang bisa diperoleh dari kunjungan wisatawan baik itu wisatawan lokal, nasional, atau pun Mancanegara.

Jika perjalanan lancar tanpa ada sedikitpun halangan, bukit eksotis di lombok ini dapat ditempuh dalam waktu kira-kira dua jam menggunakan sepeda motor jika start dari kota mataram.

sebelum sampai di bukit tunak, aku melewati pantai kuta. sempat tergoda untuk mampir sebentar, tapi sepertinya hati sudah gak sabar menginjakkan kaki di bukit tunak.  

akses jalan dari mataram sampai pantai kuta sudah cukup bagus, hanya saja ketika sudah mulai masuk ke desa mertaq sampai ke bukit tunak jalannya sudah mulai menantang. tapi gak masalah bagiku, i like it!

Hanya saja, kalau seandainya sobat pengen pergi ke kawasan wisata ini, jangan pernah menggunakan kendaraan yang sudah mulai batuk-batuk, nanti nyesel. Pastikan juga tangki bensin anda sudah terisi penuh sebelum tancap gas.

satu lagi, makanan dan minuman  perjalanan panjang gak mungkin terhindar dari lapar dan haus kan?

Untuk memasuki kawasan wisata bukit tunak ini, aku hanya perlu membayar tiket masuk seharga Rp. 17.500 / orang sudah termasuk biaya parkir. Setelah membeli tiket masuk di gerbang utama, aku pikir perjalanan sudah berakhir.

Tapi ternyata masih ada jalan sepanjang tiga kilo lagi yang perlu aku gilas dengan ban motorku.

Perjuangan memang akan selalu berbanding lurus dengan keindahan dan kepuasan yang akan kita peroleh, hukum ini juga berlaku saat aku menjelajah ke bukit tunak ini.

perjalanan panjang dan melelahkan menggunakan sepeda motor berakhir, di sambung lagi dengan perjalanan mendaki bukit tentunya dengan jalan kaki. Di areal bukit ini terdapat banyak sekali batu karang. sepertinya daerah tersebut pernah menjadi dasar lautan di masa lampau.

Perjuangan belum berakhir, tak puas hanya berada di puncak bukit, sekarang aku harus berada di puncak sebuah tower antik untuk melongok horison (Target utama). besi tower tersebut sudah mulai dimakan karat, hembusan angin kencang dari laut bebas membuat tower tersebut bergoyang. 

seakan adrenalin terpompa sampai tenggorokan, terlebih lagi anak tangganya yang lurus hampir 90 derajat memaksaku untuk lebih berhati-hati.

Sekarang aku sudah menginjakkan kaki di puncak tower. di sana aku bisa melihat horison laut selatan dan  jejeran perbukitan. Sepertinya aku tak bisa menjelaskan keindahannya, untuk itu saya hadirkan fotonya di bawah. silahkan dinikmati!

Baca Juga: Sunrise di Bukit Korea Lombok, Favorit Pesepeda Gunung