Mendaki Gunung Rinjani di hari kemerdekaan. Yay or Nay?

November 19, 2017
3 min read

Hari kemerdekaan memang menjadi momen yang spesial bagi setiap warga negara. Ke-spesial-annya ini diwujudkan dengan berbagai cara melalui beragam perayaan.

Di Indonesia sendiri perayaan hari kemerdekaan jatuh pada 17 agustus yang oleh warga negara Indonesia dirayakan dengan berbagai cara mulai dari upacara, panjat pinang, hingga juga mendaki gunung.

Mendaki gunung? Kenapa mendaki gunung saat hari kemerdekaan? Yak karena melaksanakan upacara mengibarkan bendera merah putih di puncak gunung merupakan salah satu ekspresi para pendaki dalam momen perayaan kemerdekaan Indonesia.

Nah pada momen menjelang dan sesudah hari kemerdekaan ini biasanya Gunung Rinjani di Lombok akan sangat ramai pengunjung. Para pendaki beramai-ramai ingin mengibarkan bendera di puncak sang dewi anjani.

Rinjani yang biasanya memang ramai didaki oleh wisatawan mancanegara, lebih ramai lagi karena bulan agustus biasanya akan banyak sekali pendaki lokal. Saking ramainya, berjalan mendaki gunung pun bisa macet, lokasi mendirikan tenda pun juga akan padat hingga bisa tak dapat tempat.

Menurut pengalaman saat mendaki Rinjani pada bulan agustus menjelang 17-an, saking ramainya pendaki, kami mengalami macet. Ternyata macet tidak cuma di jalan raya, di gunung juga ada.

Tepatnya di bukit penyesalan, bukit yang memang mesti berkesal-kesal untuk melewatinya, disitu macet pun terjadi. Sudah bukitnya ngeselin, miringnya kebangetan, macet pula.

Selain itu juga saking ramainya di sejumlah pos-pos penginapan, bisa jadi tenda mepet dan berisik, suasana seperti ini bisa jadi mengurangi ketenangan saat ingin beristirahat.

Selain macet dijalan, macet juga terjadi saat ngantri di sumber air.

Di hari kemerdekaan Indonesia atau umumnya pada bulan agustus biasanya juga Rinjani akan dibanjiri para pendaki yang menggelar berbagai kegiatan seperti bersih-bersih gunung dan beragam lomba yang berskala nasional hingga internasional.

Beberapa hal inilah yang bagi saya pribadi menjadi alasan why I say no to hike mount Rinjani ketika agustus-an.

Selain karena alasan ramai (bisa sampai seramai mall :D), juga karena kalau ramai, feel mendaki gunung atau berada di alam luar kurang terasa. Suasana tenang dan sepi adalah yang dicari ketika berada di gunung, menyingkir dari keramaian kota.

Jadinya kalau di kota ramai lalu di gunung juga ramai. So? Bedanya dimana?

Tapi kembali ke pribadi masing-masing juga. Kalau memang lebih senang dengan keramaian. Bisa mencoba mendaki Rinjani saat agustus-an. Terlebih bagi yang memang sudah mempersiapkan diri untuk merayakan hari kemerdekaan di puncak.

Kan kapan lagi dong bisa mengibarkan bendera merah putih kebanggaan Indonesia di puncak tertinggi kedua di Indonesia ini? Selain misi pendakian puncak tersampaikan, misi tambahan yaitu misi kenegaraan (tsahhh :D), mengibarkan sang merah putih akhirnya kan tersampaikan juga.

Namun bagi yang lebih suka suasana sepi dan tenang bisa mencoba mendaki diluar bulan agustus. Kalau melihat dari pengalaman sebelumnya, bulan oktober dan desember lumayan sepi juga jika dibandingkan dengan bulan agustus.

Kalau bulan oktober kemungkinan Rinjani sedang eksotis-eksotisnya. Banyak rumput dan pepohohan sedang kering karena memang sedang musim panas.

Namun pada akhir-akhir musim kemarau tersebut juga rawan terjadi kebakaran di Rinjani. Sementara saat desember yang sudah mulai memasuki awal musim hujan, Rinjani sedang hijau-hijaunya.

So, it’s just about choice. Yay or nay? Pilihannya balik ke selera masing-masing. Yang penting kapanpun mendakinya, tetep inget safety first dan jangan nyampah yaa! Keep clean!

Hijaunya Rinjani. Desember segerrr~