Mendaki Puncak Rinjani – Jatuh Cinta Pada Pendakian Pertama

November 16, 2017
6 min read

Bicara soal wisata Lombok, Gunung Rinjani sudah menjadi daftar wajib sebagian besar wisatawan. Gunung dengan ketinggian 3726 mdpl ini memang sudah terkenal hingga ke seluruh penjuru dunia.

Tidaklah heran kalau Gunung Rinjani menjadi tujuan favorit pendaki. Terbukti dengan banyaknya para pendaki dari dalam negeri hingga luar negeri, pendaki pemula maupun yang sudah mahir, tertarik untuk menaklukkan gunung yang dijuluki surganya para pendaki ini.

Perjalanan mendaki Gunung Rinjani bisa ditempuh melalui Sembalun, Lombok Timur, salah satu pintu masuk menuju Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).

Dari Mataram menuju Sembalun dapat ditempuh dengan sepeda motor ataupun mobil dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.

Sementara bagi yang dari luar Pulau Lombok yang melakukan trip ke Lombok dengan pesawat dan setelah mendarat di Bandara Internasional Lombok (BIL) ingin langsung melakukan pendakian, bisa menempuh perjalanan dari BIL menuju Selong, Lombok Timur dengan kendaraan umum.

Lalu dari Selong ke Masbagik menuju Pasar Aik Mel, Lombok Timur. Terakhir, dari Pasar Aik Mel kemudian menuju Sembalun. Sembalun merupakan salah satu jalur pendakian ke Gunung Rinjani selain jalur Senaru, Bawaq Nao, dan Torean.

Sembalun adalah jalur yang paling populer, selain karena medan yang tidak seterjal jalur lainnya, jalur Sembalun juga menawarkan view yang indah dengan savana yang membentang luas.

Bagi para pendaki pemula, mendaki Rinjani melalui jalur Sembalun bisa menjadi pilihan yang tidak akan mengecewakan.

Pertama kalinya saya mendaki Gunung Rinjani, ditemani porter dan guide pribadi terbaik, kakak saya sendiri. Ia mengajak saya melewati jalur Sembalun.

“Kita lewat Sembalun saja, biar medannya tidak terlalu sulit, apalagi kamu baru pertama kali naik gunung”, katanya.

Di basecamp pendakian Rinjani kami melakukan registrasi dengan harga yang saya bilang murah dibandingkan keindahan yang tidak ternilai yang dimiliki Gunung Rinjani.

Saat itu, bulan agustus 2013, tiket pendakian masih seharga 2.500 rupiah per orang per hari untuk turis lokal, dan 25.000 per orang per hari untuk turis asing.

Tapi sejak april 2014 lalu tarif berubah menjadi 5.000 rupiah per orang per hari untuk turis lokal, sementara 150.000 rupiah per orang per harinya untuk turis mancanegra.

Selesai registrasi, saya dan kakak saya, kami berdua memulai perjalanan saat sore hari. Pada saat sore, padang savana jalur Sembalun terasa begitu teduh dengan suara burung-burung di kejauhan.

Damai rasanya. Namun berbeda saat siang hari jalur Sembalun bisa menjadi sangat terik. Langkah demi langkah kami berjalan menuju pos-pos Plawangan Sembalun.

Di sini, terdapat 4 pos untuk menuju ke puncak Rinjani yaitu pos 1, pos 2 ,dan pos 3 dan yang terakhir pos puncak Plawangan Sembalun. Belum sampai di pos manapun, tapi wajah cantik Rinjani tampak begitu dekat di mata.

Perjalanan dari basecamp Sembalun menuju pos 1, 2 dan 3 terbilang mudah, karena jalurnya yang masih landai. Di setiap pos tidak semuanya memiliki sumber air.

Jadi jangan lupa siapkan air minum secukupnya dari awal perjalanan sebagai bekal perjalanan menuju pos 2. Selain itu sumber air juga ada di pos puncak Plawangan Sembalun yang merupakan pos terakhir. Waktu tempuh menuju masing-masing pos tersebut sekitar 2 jam.

Biasanya pos 2 menjadi lokasi camp bagi yang ingin beristirahat dulu sebelum melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya.

Karena di sini terdapat sumber air, yang meskipun kualitas airnya tidak cukup bagus, tapi layak untuk dikonsumsi baik untuk minum atau untuk masak-memasak.

Sejak pendakian pertama ini saya jatuh cinta pada pandangan pertama pada pos 2 ini. Alasannya, di sini saya bisa melihat langit luas dipenuhi bintang yang menerangi langit malam tepat di atas kepala saya.

Cukuplah cahaya bulan dan bintang menjadi penerang gelapnya malam saat merebahkan badan yang lelah di dalam tenda.

Saat pagi menjelang, di sini saya bisa melihat matahari terbit dengan cahayanya yang menghangatkan tubuh yang semalaman dipeluk dinginnya Rinjani. Apalagi saat pagi, puncak Rinjani terlihat semakin dekat. Menjulang tinggi ke langit pagi yang cerah.

Setelah puas beristirahat di pos 2, perjalanan berlanjut menuju pos 3 dan pos terakhir yaitu pos puncak Plawangan Sembalun sebelum akhirnya menuju puncak Rinjani.

Jalur yang dilalui terutama dari pos 3 menuju Plawangan Sembalun sudah mulai menanjak, turunan, landai sedikit, menanjak lagi, dan begitu seterusnya.

Benar-benar medan yang berbeda seperti di pos-pos sebelumnya. Rinjani semakin dekat terlihat, berdiri kokoh dibalik bukit demi bukit yang seperti tidak ada habisnya.

Di antara bukit-bukit itu, satu bukit yang cukup memerlukan kesabaran ekstra untuk menaklukkannya, namanya bukit penyesalan. Di sinilah kesabaran benar-benar diuji. Terjal dan licin.

Itulah bukit penyesalan, bukit yang membuat pendaki merasa menyesal dan tersiksa karena tanjakan yang seperti tidak pernah habisnya. Disini, jangan putus asa, ada keindahan menunggu di atas sana.

Benar saja, setelah bersusah payah menaklukkan bukit penyesalan, sampailah kami pada pos puncak Plawangan Sembalun. Pos terakhir yang tidak kalah indahnya.

Lelah terbayar sudah melihat keindahan puncak Rinjani di sebelah kiri. Deretan tenda para pendaki yang lebih dulu sampai berjejer menghadap ke puncak Rinjani.

Pemandangan lain yang menarik perhatian adalah Danau Segara Anak di sebelah kanan. Tepat di bukit di atasnya deretan tenda menghadap ke Danau Segara Anak.

Saat terbaik sampai di pos terakhir ini adalah saat sore. Matahari senja di atas Danau Segara Anak adalah pemandangan yang menakjubkan.

Seketika sampai di sini, saya disergap rasa haru dan takjub mengingat perjuangan mendaki hingga ke Plawangan Sembalun yg benar-benar tidak mudah selama 2 hari.

Terlebih lagi, melihat indahnya Plawangan Sembalun membuat saya berfikir bahwa berada di sini saja sudah indah, apalagi di puncak sang Dewi Anjani.

Perjalanan menuju puncak Rinjani biasanya dilakukan saat malam hari pada pukul 2 atau 3 malam. Untuk menuju puncak, tidak perlu membawa semua barang bawaan.

Bawa seperlunya saja dan jangan lupa membawa barang berharga dan beberapa makanan ringan juga minuman sebagai bekal perjalanan saat muncak. Yang tidak kalah pentingnya bawalah sleeping bag sebagai antisipasi kalau terkena hypotermia karena dinginnya malam di ketinggian.

Namun saat meninggalkan tenda untuk mendaki puncak Rinjani, pastikan barang-barang yang ada di tenda ada yang menjaga atau titipkan kepada tetangga sebelah tenda agar tidak kecurian.

Medan yang dilalui menuju puncak tidak semudah seperti yang nampak, tidak sedekat seperti yang terlihat. Jalur berpasir dan berkerikil, jurang di sisi kiri dan kanan cukup menguji ketabahan.

Meskipun rintangannya sulit, saat sudah berhasil berada di puncak, rasa takjub dan syukur tidak hentinya mengalir. Kekaguman pada sang pencipta seketika berlipat-lipat melihat view yang begitu indah di puncak.

Perjalanan yang melelahkan pun terbayar dengan keindahan yang tiada henti menyapa pagi di puncak tertinggi ketiga di Indonesia ini.

Sejak pendakian pertama inilah, saya langsung jatuh cinta pada Rinjani. Jatuh cinta pada gunung.

Beratnya perjalanan tidak mengurangi perasaan saya pada Rinjani, perasaan rindu untuk kembali mendaki, meskipun harus bersusah payah. Karena sejatinya, sesuatu yang indah tidak pernah mudah.