Bukit Nanggi dan Merese Lombok, Jejak Abadi Kristal Persahabatan

Mei 18, 2017
2 min read

Identik dengan julukan Pulau Seribu Mesjid, ada satu kota yang justru semakin eksis dengan multikulturalnya. Yap. Mataram. Ibukota propinsi NTB (Nusa Tenggara Barat).

Saya pribadi sudah merasakan keberagaman tersebut puluhan tahun lalu ketika tercatat sebagai salah satu mahasiswa di kampus plat merah kota yang umumnya bercuaca dingin ini.

Tak sampai empat puluh orang di satu kelas seangkatan, semua agama yang tercatat resmi dan tercantum di eKTP dianut oleh teman-teman saya. Pun berbagai latar belakang suku dan budaya.

Keberagaman yang berulang pada adik saya yang saat ini nikmati hari-hari terakhir menjadi siswa kelas XII salah satu sekolah di ibukota rujukan pendidikan terbaik bagi para pelajar atau orang tua yang tersebar di tujuh kabupaten.

Di sepuluh tahun terakhir, Azra Wahyuda satu dari banyak sosok remaja yang penuhi waktu luangnya dengan berbagai kegiatan positif. Salah satunya, berburu keindahan spot-spot wisata yang tersebar di Lombok.

Paling sering bersama teman-temannya. Akrab dipanggil keluarga sebagai Wahyu, meski belum beroleh ijin lakukan pose terbaik di puncak 3726 mdpl Rinjani, ia sudah punya ratusan koleksi foto dari sekian puluh spot wisata Lombok.

Sssttt, semacam bersyukur, racun saya agar peka dengan angle foto terbaik spot yang dikunjunginya berhasil. Koleksi foto-fotonya semakin kaya, bisa dipastikan di rekam perjalanannya di ulasan ini. Bukit Nanggi dan Bukit Merese di Lombok Tengah.

Wahyu dan sahabat-sahabatnya memilih motor menjadi moda transportasi kunjungi Bukit Merese dan Bukit Nanggi.

Berkendara sekitar satu jam dari kota Mataram, Bukit Merese terletak di bentang garis pantai selatan yang juga dekat dengan pantai Kuta, Tanjung Aan, dan Mandalika. Jamaknya remaja cowok, pilihan kuliner kadang cukup dengan makanan instan atau nasi-nasi bungkus murah meriah sekadar pengganjal perut lapar.

Sebaliknya, pernah habiskan malam di bukit Pergasingan di desa sama, Sembalun Lombok Timur, Wahyu sempat keluhkan terjalnya jalur mendaki di Bukit Nanggi. “Bonus jalan datarnya ndak ada mbak! Nanjak terus. Untungnya pada kuat semua.”

Saya yakinkan, jalur penguji sebenarnya masih menantinya. Yap. Tanjakan sesungguhnya menuju puncak Anjani, puncak yang masih sebatas direkamnya saat bermalam di bukit-bukit seputar Rinjani di desa yang dulunya terkenal sebagai swadaya Bawang Putih ini.

Baca Juga: Melongok Horison dari Bukit Tunaq