Pelawangan Sembalun Lombok, Sebuah Negeri di Awan

Oktober 20, 2017
3 min read

Where to escape when you want to run away from your hectic daily lives?

Jawabannya bisa beragam. Tapi yang pasti, alam adalah salah satu pilihan tepat untuk melepas penat.

Rasanya beruntung tinggal di Lombok, pulau yang belakangan banyak disebut-sebut oleh para traveler/backpacker sebagai serpihan tanah surga yang jatuh ke bumi.

No doubt. Well, sekarang nggak susah menjejak kaki di pulau pedas ini, ada banyak pilihan maskapai penerbangan, tiket ke pulau Lombok pun bisa dengan mudahnya didapat.

Tak diragukan lagi, Pulau Lombok juga memiliki berbagai pilihan wisata yang luar biasa.

Dulu sekali, seorang teman yang mengaku “anak gunung” pernah mengompori saya dengan berkata :

“kamu tau nggak? Negeri di atas awan itu benar-benar ada. Kalau mau bukti, coba aja naik Rinjani,” katanya.

Jika bosan dengan pantai, Lombok masih punya banyak bukit, lembah, dan gunung untuk disusuri. Destinasi paling prestigious tentunya adalah Rinjani.

Bagi yang pernah mendaki Rinjani, mungkin sebagian kita akan punya banyak bagian cerita yang sama, mulai dari rute dan suka duka melewati pos demi pos hingga ke bukit penyesalan. T

api dalam setiap perjalanan, pasti ada sisi personal yang hanya si pendaki yang mengetahuinya. Data Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) menyebutkan bahwa selama 2014 saja ada 44ribuan pendaki yang mengunjungi Rinjani.

Dan bayangkan jika setiap pendaki bercerita tentang Rinjani, ada berapa banyak cerita unuk yang bisa dikumpulkan? Isn’t it cool?

Abaikan dulu cerita tentang track Rinjani yang (katanya) bikin geleng-geleng kepala, atau suka duka berteman porter di sepanjang perjalanan.

Ini adalah tentang rumah singgah Rinjani Lombok, Pelawangan Sembalun, sebuah negeri di awan yang ternyata benar adanya.

Kalau boleh diibaratkan, maka menurut saya pribadi Pelawangan Sembalun adalah titik aman pendakian Rinjani.

Setelah bersusah payah melewati padang Savana, mendaki rangkaian bukit (penyesalan) yang seakan-akan tak pernah berkesudahan, maka Pelawangan Sembalun ibarat rumah singgah untuk melepas lelah.

Terserah jika setelahnya hendak langsung mendaki puncak atau turun ke danau Segara Anak.

Yang jelas bagi saya rasanya sangat nyaman melihat deretan tenda memenuhi jalur sepanjang Pelawangan sambil mendengar celotehan ramah para pendaki yang menghangatkan diri sembari minum kopi.

Saat itu saya bersama rombongan berangkat dari Pintu Sembalun (Bawaq Nao), dengan kecepatan standar dan istirahat secukupnya, Pelawangan Sembalun bisa dicapai dalam waktu sekitar 10-11 jam.

Berangkat sekitar pukul 06.00 pagi dan sampai di Pelawangan Sembalun pukul 16.30 sore. Sekali lagi, ini tergantung pilihan pendaki, antara tancap gas sehari penuh atau memilih istirahat di pos-pos sebelumnya.

Lelah mendaki terbayar tuntas dengan menikmati sunset di Pelawangan Sembalun. PERFECT!

Pelawangan Sembalun berada di ketinggian 2.639 mdpl. Pemandangan danau Segara Anak terlihat cukup jelas dari sini ditambah dengan posisi yang rasanya sejajar dengan gumpalan awan yang menghiasi langit.

Rasanya seperti berada di negeri asing, menyentuh langit dengan awan-awan lembut seputih susu.

Dan entah darimana datangnya, di Pelawangan Sembalun, negeri awan, ada kekuatan magis yang begitu kuat, menyadarkan kita bahwa Pencipta Semesta ini Sungguh Luar Biasa.

Seorang sahabat pernah berkata, “mendaki gunung bukan tentang menaklukkan puncak, tapi tentang proses luar biasa dibalik itu. Tentang menemukan diri kamu sendiri, menyatu dengan alam, dan menemui Sang Pencipta,”. Saya mengiyakan.

Penasaran dengan negeri di awan? Luangkan waktu libur paling tidak 5 hari untuk menjajal Rinjani (not in rush), nikmati perjalanannya, dan buktikan bahwa negeri di awan memang benar ada di Lombok!

At least once in your life time, pack your backpack, and go climb the mountain!

Rinjani Lombok menunggu anda! 🙂