Pesona Air Terjun Mangku Sakti Dari Lombok

Januari 2, 2018
5 min read

Jatuh di dua hati sudah terlalu mainstream. Lah, kalau jatuh cinta di beribu hati gimana? Sensasi kasmaran itu bisa Anda peroleh hanya dengan berwisata ke Lombok.

Pulau Eksotis ini dapat membuat Anda kembali merasakan bagaimana bahagianya mendapat surat cinta pertama di hidup Anda. Bagaimana tidak, tiap wisata yang ditawarkan mampu membuat Anda kesulitan “move on”.

Ah, saya, penulis di artikel ini tak perlu terlalu banyak mendramatisasi. Biarlah Anda sendiri yang membuktikan langsung betapa luar biasa indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa ini.

Meskipun saya orang asli Lombok, namun saya belum sepenuhnya menjamah seluruh bagian dari pulau yang luasnya mencapai 5.435 km2 ini.

Sampai suatu hari saya dan teman-teman sepakat untuk melancong ke Lombok Timur hanya dengan bermodal foto destinasi yang akan kita tuju. Sejujurnya, foto lokasi tersebut sudah kami temukan 4 bulan sebelumnya.

Sebuah air terjun yang warnanya tak seperti kebanyakan air terjun pada umumnya, yakni light tosca gitu. People call it, The Mangku Sakti Waterfall.

Explorer siap berangkat!

Dari namanya saja Mangku berarti tetua, dan Sakti artinya luar biasa. Sekilas,nama air terjun ini terdengar awesome. Filosofi nama yang kita rangkai (sendiri) ini tak cukup menjawab rasa penasaran akan keberadaan air terjun tersebut.

To convince our prediction, finally kita sepakat untuk langsung menuju TKP.

Setelah melalui begitu banyak pertimbangan, menanti waktu yang tepat untuk mengukir sejarah petualang kami, (maklum karena tak gampang menyatukan 7 makhluk dengan kesibukan yang berbeda) hari H pun tiba, menjadi komplotan explorer, semacam Dora The Explorer bersama Boots dan kawanannya.

Perjalanan kami dimulai dari Kota Mataram pukul 08.00 menggunakan kendaraan roda 2 dan melewati rute Mataram-Narmada-Masbagik-Aikmel-Swela-Sembalun.

Hanya dengan kecepatan rata-rata 60km/jam, kami sudah bisa sampai dengan selamat di Sembalun pada pukul 12.00 siang wita. Wah, mayan gempor seluruh badan rasanya. Tapi begitu melihat kembali foto main goal kita, lelahpun terlupakan.

Berhubung kami bermodal peta buta, alhasil waktu kami habis dijalan (hanya) untuk bertanya soal keberadaan Mangku Sakti Waterfall tersebut. FYI, perjalanan menuju lokasi ini melewati kaki Gunung Rinjani.

Jadi kebayang kan gimana sejuknya udara pegunungan yang bakalan bikin sobat travellers semeriwing. Di kiri kanan jalan, kita masih bisa meikmati bukit-bukit kecil yang berdiri gagah menemani Rinjani selalu.

Selain itu, sobat travellers masih ingat nggak lagu Naik-naik ke Puncak Gunung? Sepenggal lyricnya berbunyi, “…kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara”.

Lalu apa hubungannya lyric lagu di atas dengan apa yang akan sobat lihat nanti? Well, disini bukan pohon cemara yang bakal sobat lihat, tapi hamparan kebun strawberry.

Nah, disini tempat godaan terbesarnya, Sob. Antara ingin berdiam di wilayah Sembalun Lawang untuk bercengkarama dengan alam, atau melanjutkan perjalanan menuju desa Sajang (letak main destination kami, Mangku Sakti).

Ah, rasanya tak ingin beranjak pergi karena cuaca saat itu masih enak diajak bercanda. Tapi, mau enggak mau kami harus melanjutkan perjalanan, show must go on.

“Jalan aja mbak, nanti di kiri jalan ada tulisan “Desa Sajang”, nah tinggal belok kiri dah mbak..” begitu ujar salah seorang warga tempat kami bertanya.

Baiklah, hanya dengan keyakinan yang kuat kami tetap melanjutkan perjalanan meski tak tahu menau apakah jalur yang kami lalui benar. Dengan rasa siaga, kami tengok kanan kiri hanya agar tidak melewatkan tulisan “Desa Sajang”.

Sekitar 45menit dari posisi terakhir kami berada (Sekitar Sembalun Lawang), kami melihat tulisan Desa Sajang. Dan tahukah sobat rasanya gimana? Hati kami berdendang bahagia.

Ibarat, menemukan seteguk air di tengah teriknya gurun. Tanpa berfikir panjang lagi kami langsung belok kiri (kearah Desa Sajang).

Kami fikir sumber air mangku sakti sudah dekat, ternyata harus lanjut berkendara. Namun sebelumnya, kami harus membayar tiket masuk sebesar Rp 5000/orang. Selesai dengan urusan administrasi, off we go.

Gilaaak, medannya enggak main-main. Naik turun kayak sakit demam di musim pancabora. You don’t know what will come next. Jalannya saat itu sedang diperbaiki, jadi tak heran banyak bebatuan dan kerikil yang berusaha menyandung siapa saja yang melewati track tersebut.

Tapi, lagi-lagi, karena emang niat banget datang kesini, jadi whatever the obstacle is, tetep struggle sampai akhir.
Kurang lebih 30 menit melewati rintangan, tibalah kami di pos aman alias tempat memakirkan kendaraan pada pukul 14.00.

Di sana kami sempat ngobrol-ngobrol dengan juru kunci parkir (lupa namanya) dan sempat bertanya mengenai Mangku Sakti.

Pasalnya, warga setempat meyakini bahwa dulu ada seorang tetua alias Mangku yang menjadi juru kunci di kaki Gunung Rinjani. Tak ada kebenaran yang pasti mengenai kepergiannya, ada yang mengatakan dia menghilang begitu saja, ada pula yang mengatakan dia meninggal.

Namun yang pasti, sejak dia menghilang, air terjun tersebut terbentuk. Ternyata, dugaan awal kami mengenai air terjun ini tidak melenceng.

Wah, kami sempat keasikan mendengar cerita bapak tersebut, sampai lupa bahwa Air Terjun Mangku Sakti nya belum kita sambangi. Perjalanan ga selesai sampai disitu, kami harus jalan kaki melewati bebatuan selama 15 menit.

Still on our way, Sob.

Just keep moving.. Just keep moving… dan Voila. Mangku Sakti berada tepat dihadapan kami. Terbayarkan sudah lelah, letih, serta tiap tetes keringat yang bercucuran.

What a magnificent view. Pancuran air setinggi kurang lebih 40 m ini mengalir dengan indah diantara dua bebatuan raksasa. Benar-benar menghipnotis kami.

Kebetulan cuaca hari itu memang asik diajak kompromi, sehingga kami betah berlama-lama. Berhubung waktu sudah mendekati “detik-detik ditelfon mama disuruh pulang”, maka kami hanya bisa mengabadikan momen saja dengan selfie, groupie dan beberapa mini video.

Padahal, jika kita menyusuri air terjun ke bawah (lagi), ada sejenis jump-cliff yang kata bapak juru parkir diatas asoy-geboy untuk dicoba. Tapi, mau dikata apalagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00.

Memang sudah saatnya kami pulang karena going back to Mataram is still a long way to go.

Dan sedikit bocoran dari narasumber setempat, masih ada banyak lagi air terjun yang tersembunyi disekitar lokasi itu. So, see you again Mangku Sakti Waterfall.

We will come back and meet your friends too.
Sob, barengan aja kesananya gimana? Saya tunggu.

Baca Juga: Air Terjun Tibu Kelambu, wisata alternatif di Lombok yang menawan