Piknik Asyik di Gunung Sasak Lombok Barat

November 5, 2017
4 min read

Ada yang sedikit berbeda dari wisata trekking jika dibandingkan dengan wisata pantai atau yang lainnya. Jika wisata lainnya cenderung aman dan langsung sampai tujuan, maka wisata trekking sebaliknya.

Butuh usaha untuk menikmati pemandangan istimewa dari puncak. That’s another reason why wisata trekking punya kesan sendiri.

Butuh atur strategi yang tepat supaya jalan nggak ngos-ngosan, kekompakan tim biar nggak tertinggal di belakang, logistik yang cukup biar nggak kelaparan, and the list goes on..and on. Kerennya, Lombok punya cukup banyak pilihan wisata trekking yang oke!

Pekan lalu saya dan anggota geng: paman-bibi-sepupu, memutuskan untuk piknik asyik ke Gunung Sasak Lombok.

Alasannya? Anggota keluarga yang kesemuanya berdomisili di Kediri ini hampir semuanya pernah naik Gunung Sasak, tapi sudah dulu sekali, rata-rata ketika masih anak-anak.

Alhasil ide untuk trekking Gunung Sasak Lombok, di-iya-kan secepat kilat. Hitung-hitung napak tilas, katanya.

Gunung Sasak Lombok terletak di kecamatan Kuripan, kabupaten Gerung Lombok Barat.

Dari Kota Mataram, teman-teman bisa menuju kesini lewat by-pass menuju BIL, perhatikan gapura bertuliskan Desa Kuripan di seberang kanan jalan. Pelan-pelan saja agar tidak terlewat. Maklum, jaraknya dekat. Hehe..

Jalur masuk menuju Gunung Sasak Lombok berada di Dusun Iting. Kendaraan bisa dititipkan di rumah warga. Kita akan melewati perkampungan dan area persawahan.

Selanjutnya kendaraan masuk melewati jalan kampung sampai ke “jembatan cinta”. Well, salah seorang paman saya menamainya demikian.

Tapi benar saja, jembatan ini dipenuhi oleh muda-mudi yang asyik ngobrol bercanda. View sekitar adalah persawahan dan sungai yang sayangnya saat itu tengah mengering airnya.

Setelah melewati jembatan, kita akan melalui jalan sempit yang diapit pohon bambu di kiri kanan. Selain hijau sawah dan hutan bambu ada aktifitas pengambilan pasir yang dilakukan masyarakat sekitar.

Jalur trekking Gunung Sasak Lombok adalah jalur tanah dengan semak-semak yang cukup lebat di kiri kanan.

Kita juga kan mudah menjumpai tanaman masyarakat, mulai dari pisang, mangga, nangka, singkong, dan beberapa jenis pohon buah lainnya.

Well, trek yang kita lalui terbilang cukup mudah, tidak terlampau curam. Hanya saja, jika kesini, disarankan untuk tidak menggunakan sandal, karena semak-semak dan duri cukup menghambat perjalanan jika tidak menggunakan sepatu.

Semakin menanjak, pemandangan mulai jelas terlihat. Hijau yang membaur dengan pemandangan perkotaan, masjid dan birunya laut mulai terlihat. Awe!

Terus berjalan, kami menemukan berugak sederhana yang tampaknya sengaja dibangun warga untuk sekedar melepas lelah.

Iseng, saya mengikuti paman yang sengaja turun ke bawah mencari mata air, katanya. Dia ingat betul saat kecil dulu, ada tempat khusus yang sengaja dibangun untuk menampung air.

There we get it! Air-mata air-ini berasal dari rembesan air akar pohon dan konon katanya jumlahnya tidak pernah berkurang sejak dulu.

Ada yang unik di dekat berugak tempat kami beristirahat, semacam monumen yang ditandatangani oleh wakil presiden RI. Sayangnya, tidak ada masyarakat lokal yang bisa kami tanyai tentang hal tersebut.

Well, at least itu menjadi penunjuk bahwa tempat ini pernah menjadi tempat yang spesial di masa lalu.

Dari info yang saya dapat, kawasan gunung Sasak Lombok telah cukup banyak mengalami alih fungsi oleh masyarakat.

Hemm, semoga saja masyarakat bisa bertanggungjawab ya, dan pemerintah bisa terus menggalakkan reboisasi untuk menghijaukan kembali beberapa spot yang memang terlihat gundul.

Salah satu yang unik dari Gunung Sasak Lombok ini adalah banyaknya batu yang tersebar tak beraturan. Ukurannya cukup besar. Ada dua batu besar yang letaknya berdekatan, dan kami iseng menamainya batu couple, hehe.

Puncak gunung ini ditandai dengan tumpukan batu yang dinamai “Batu Kemeras”, posisinya unik, karena ada satu batu yang menumpu pada batu lain di bawahnya. Tempat ini sering dijadikan tempat sembahyang bagi umat Hindu. Unik!

Sebenarnya saya kurang yakin dengan “puncak” gunung  ini, karena puncaknya tidak seperti puncak pada umumnya. Kami dikelilingi oleh semak dan pepohonan tinggi.

Tapi, setelah dipikir-pikir, sepertinya cukup wajar, mengingat ketinggian Gunung Sasak Lombok, atau mungkin lebih tepatnya disebut bukit, hanya sekitar 300-an mdpl.

Kami yang memang membawa bekal cukup banyak, langsung menggelar tikar alam a.k.a daun pisang dan membuka perbekalan.

Dengan total trekking time sekitar 45 menit, spot ini cukup recommended buat yang ingin menjajal stamina sambil menikmati view yang hijau-hijau.

Jangan lupa bawa bekal yang cukup, bawa pulang sampahmu and enjoy your picnic!

Yuk ke Lombok!