Serunya Begawe Ala Suku Sasak Lombok (Part – 2)

Agustus 7, 2017
4 min read

Sebelum lanjut baca tulisan ini, jangan lupa baca dulu Serunya Begawe Ala Suku Sasak Lombok part 1, biar nggak bingung dan bisa nyambung.

Begawe merariq di daerah Pujut umumnya berlangsung dua hari, Sabtu-Minggu, dengan rentang waktu pagi hingga malam hari. Tujuan utamanya adalah flexibility: tamu bisa datang kapan mereka sempat.

Jelang hari-H begawe, kami diingatkan lagi untuk mempersiapkan diri, menjaga stamina agar besok bisa menemani tamu dengan baik. Saya juga diberitahu bahwa proses yang dilakukan namanya “Betangko”.

Skenarionya sederhana. Saya dan suami sebagai pasangan pengantin didampingi oleh orang tua (pihak lelaki) sebagai tuan rumah akan duduk di atas karpet dan menunggu tamu yang datang memberi ucapan selamat.

Betangko menjadi simbol turut bahagia dan ajang kenalan dengan pengantin baru.

Tamu betangko tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa wadah berisi beras, gula, pisang, atau jajan.

Umumnya para tamu punya satu pertanyaan utama, “pengantinnya yang mana ya?” So by that time, kami harus menyapa, bersalaman, dan beramah tamah sesaat dengan  para tamu.

Tak lama, akan ada agan (petugas) yang mengarahkan tamu tadi menempati posisi tertentu sambil menunggu datangnya dulang hidangan.

Uniknya, satu dulang yang isinya nasi dan 3 jenis lauk pauk diperuntukkan bagi 1 orang: one dulang, one person.

Waktu itu saya mengira semua akan sesederhana apa yang saya pikirkan. Sampai akhirnya rombongan tamu berdatangan tanpa henti.

It’s even more more tiring than 2-3 hours standing on wedding reception. Bayangkan saja, kami harus menerima tamu yang datang mulai pukul 10 pagi sampai pukul 9 malam, dan hanya dijeda dengan sholat.

Bagi saya, yang paling menarik adalah bagaimana kelompok masyarakat meng-organize acara dengan tingkat kesalahan yang sangat minim. Seperti yang ditulis di posting sebelumnya, semua punya posnya masing-masing. Here’s how they did it!

Pos 1 adalah pos penerima bawaan. Nah, di pos ini agan bertugas mengtur barang bawaan tamu sesuai jenisnya. Beras dengan beras, gula dengan gula, dan seterusnya.

Sekaligus memastikan kelompok wadah berdasarkan rombongan datangnya.

Pos 2 adalah pos pengatur tamu. Petugas disini bertanggungjawab mengatur lokasi tamu. Tamu kerabat dekat keluarga yang akan stay lama diarahkan di dalam, tamu lokal di lokasi berbeda.

Mereka juga yang akan beramah tamah dan meminta tamu untuk menikmati hidangan.

Pos 3 adalah pos terpenting, saya menyebutnya ketua gawe. Petugas disini hanya 1 orang, namun tugasnya mengomando arus dulang yang keluar.

Ia yang menyebut atau mengkode angka dulang sebelum dikeluarkan dari dapur utama. Ia harus benar-benar tahu jumlah rombongan yang datang sehingga dapat dipastikan semua kebagian.

Selanjutnya, yang tak kalah penting, pos pengisian dulang. Disini para juru masak berjibaku dan memastikan makanan yang dihidangkan tetap fresh dan cukup untuk semua.

Pos 5 saya sebut sebagai pos pengancang. Ini adalah deretan para pengantar dulang. Umumnya mereka berpakaian seragam sehingga mudah dikenali.

Ada juga yang bertugas mengisi kembali wadah bawaan tamu. Wadah yang sudah diisi disebut awon-awon. Isinya adalah paket lauk komplit beserta jajan dan buah.

Pos berikutnya adalah pos snack and drink. Umumnya yang disediakan adalah kopi dan teh untuk panitia. Di pos ini berderet termos dan gelas berisi kopi, gula, dan teh yang sudah siap seduh.

Pos terakhir, pos yang paling heboh selain pos pengancang: pos cuci piring. Pos ini penuh dengan gadis dan ibu-ibu yang mengelilingi bak-bak besar berisi air untuk mencuci piring.

Ini adalah pis dengan anggota terbanyak. Saat hari begawe jumlahnya bisa mencapai 30 sampai 50 orang.

Selain organizer yang oke punya, keterkejutan saya juga muncul dari jumlah bujet yang dikeluarkan untuk begawe.

Selain menyemblih satu ekor sapi, biasanya ada daging tambahan yang harus dibeli untuk menutupi kekurangan, jumlahnya bisa mencapai lebih dari 150 kg.

Total beras yang digunakan selama proses berlangsung mencapai 15 kuintal. Ketan yang digunakan untuk membuat jajan mencapai 200 kg.

Belum terhitung puluhan ekor ayam, bumbu dan sayuran. How much? Silakan dikalkulasi sendiri. Biaya begawe juga sedikit terbantu dengan adanya banjar (satuan kelompok kampung).

Masing-masing anggota banjar turut urunan membantu si empunya gawe, sesuai dengan jumlah yang disepakati bersama.

Lepas dari mahalnya biaya begawe, ada sesuatu yang lebih besar dari sekedar hitungan uang: nilai kesyukuran. 

Ada kebahagiaan tersendiri saat karib kerabat yang sudah lama tak bersua, teman lama, tetangga dekat ataupun jauh, meluangkan waktu mereka untuk datang memberi ucapan selamat dan doa.

Ada kepuasan saat bisa berbagi dengan para tamu yang hadir. Selebihnya, proses begawe juga semakin mengeratkan ikatan sosial dan kekeluargaan di kampung tersebut.

Beautiful!

Lombok sungguh kaya! Bukan hanya alamnya namun juga budayanya.

Ayoo rencanakan liburan kalian ke Lombok, experience it in your personal way!