Spot Wisata Di Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Tunak

In Pujut
September 1, 2017
4 min read

Ayo ke Lombok! Liburan di Lombok Tengah belum usai, saya berencana menjelajah spot-spot di sekitar hotel Bumbangku Cottage. Nah, karena dalam perjalanan saya melihat ada penunjuk arah ke Taman Wisata Alam Gunung Tunak, akhirnya saya dan partner liburan saya sepakat untuk mengeksplore bukit Tunak.

Traveler yang sudah siap-siap ke Lombok, bisa nih mencatat dalam list kalian, jelajah bukit Tunak, ada beberapa spot cihuy yang bisa kalian temui di sana.

Menyusuri hutan gunung tunak

Dengan mengendarai mobil dari pihak hotel, kami mampir sebentar ke sebuah bukit di belakang Bumbangku Cottage, bukit Lobster Bay. Dari ketinggian bukit ini, kami disajikan dengan panorama cantik dari kejauhan.

Oh damn! Kalian harus ke tempat ini agar bisa melihat apa yang kami lihat, lukisan Tuhan memang selalu terbaik, tercihuy, dan saya tidak bisa mengekspresikan dalam kata.

Birunya lautan, taburan gili dan bebatuan di hamparan laut, hijaunya bukit-bukit yang mengelilingi teluk, berpadu dengan birunya langit. Melirik jam tangan, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Petualangan dimulai, mobil kami memasuki pintu masuk Taman Wisata Alam Gunung Tunak.

Penangkaran Kupu-Kupu

Setelah beberapa ratus meter memasuki pintu masuk Taman Wisata Alam Gunung Tunak, kami menemukan sebuah lokasi penangkaran Kupu-Kupu, pantas saja perjalanan kami diiringi oleh ratusan Kupu-Kupu yang berterbangan.

Menurut info yang saya peroleh, di bulan Februari populasi mereka akan meningkat. Kebayang Traveler sedang jalan kaki menyusuri rimbunnya pepohonan dan dikelilingi ribuan kupu-kupu cantik. Imajinasi saya langsung masuk ke negeri dongeng.

Teluk Ujung

Kami meneruskan lagi laju mobil dengan perlahan, ada jalan bercabang di depan, saya meminta agar mobil dibelokkan ke arah kanan. Bertanya-tanya, ada apa di ujung jalan di sana?

Ya, ujung yang sangat cantik sesuai namanya, pantai Teluk Ujung. Pasir putih yang cantik dan ombak yang tak terlalu besar.

Gili Anak Ewoq & Gili Penginang

Ah, time to begurusuk! Tak puas berdiam diri di teluk ujung, kami sepakat meneruskan lagi petualangan, naik bukit kemudian turun dan naik lagi.

Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit, dan voila kami ditakjubkan dengan pemandangan epic dari Gili Anak Ewoq dan Gili Penginang. Saya sampai terhipnotis dan seperti ingin meniti bebatuan memanjang itu.

Kami memutuskan untuk kembali ke mobil dan kembali ke jalan utama menyusuri hutan kawasan Taman Wisata Gunung Tunak. Mengambil jalan lurus ke arah bukit Tunak, suara deburan ombak sayup-sayup terdengar.

Pantai Bilasayaq

Disambut dengan deburan ombak yang kuat dengan jarak pendek ke arah pantai. Birunya air laut dan busa ombak melahap bibir pantai. Pantai Bilasayaq seperti post pertama untuk mendaki bukit Tunak yang sudah terlihat dari kejauhan.

Karena ombaknya yang cukup besar, kami hanya menikmati pantai dari atas bukit.

Mobil akhirnya kami parkir, dan dimulailah soft trekking lagi. Sejauh mata memandang hamparan bukit hijau deburan ombak, birunya laut senada dengan birunya langit dan kapas-kapas awan.

Petualangan bukit Tunak tidak terasa, setelah melewati jalan setapak dengan semak-semak. Sekitar 10 menit akhirnya kami sampai di atas bukit Tunak.

Karena angin sedang tidak bersahabat, kami tidak menaiki tower yang cukup terkenal di bukit Tunak, sebenarny dari atas sana kalian bisa melihat ke seluruh penjuru mata angin. Dan pemandangan yang kami dapatkan pertama kali adalah Gili Bungkulan.

Tanjung Bungkulan

Tak puas hanya satu angle, saya mengajak lagi partner liburan saya untuk mendaki ke bukit arah utara dari bukit Tunak, ya sekitar 5 menit. Aih, kami bertemu dengan Tanjung Bungkulan. Tebing menjorok ke arah laut. Dari sini terlihat juga Gili Bungkulan dari sudut pandang berbeda.

Pantai Goang Sari

Istirahat sebentar, saya lagi-lagi penasaran, bukit ke arah utara ini masih saja terlihat menggoda untuk didaki. Kami akhirnya meneruskan soft trekking, naik beberapa bukit, perjalanan  sekitar 1 jam. Ya, kali ini cukup melelahkan.

Turun dari bukit berikutnya, mata saya langsung terpukau dengan apa yang kami dapat. Lelah terbayarkan, Pantai Goang Sari menyapa dengan eksotisnya.

Kami langsung terduduk di atas rerumputan dan meminum air bekal kami, terik tak terasa, kulit sudah mulai terbakar tapi saya benar-benar puas.

Tuhan benar-benar membuat saya bersyukur tiada henti, ini lukisan nyata yang amat sangat cihuy. Ah, liburan jangan selesai donk! Eh, itu sampah tetap dibawa pulang ya, jangan ditinggalkan di Alam. Cukup tinggalkan jejak kaki kalian saja.

Salam Cihuy~