Pemacu Adrenalin Itu Sungai Mencerit Pringgasela Lombok

Mei 30, 2016
5 min read

Semakin terbiasa dengan rutinitas menemani tamu-tamu saya di pendakian pertama mereka ke 3726 mdpl Rinjani, pun setelahnya telusuri keindahan pantai-pantai cantik Lombok.

Saya menjadi excited ketika beberapa sahabat mengajak memacu adrenalin dengan cara berbeda. Bagaimana tidak memacu adrenalin? Hidup saya tergantung pada satu ban besar, jaket pelampung, pengaman siku dan helm! Ahhay, lebay yak.

Wait, empat piranti di atas memang standar wajib yang harus dikenakan setiap orang yang mau melakukan River Tubing. Iyak! Telusuri sungai berarus deras, jeram berbatu dan lorong yang gelap!

Setiap mendengar cerita teman atau keluarga saya yang tumbuh besar di era tahun 80-an sampai 90-an, saya hanya bisa terkekeh ketika mendengarkan mereka yang gembira memiliki masa kecil berenang atau bermain air di sungai-sungai besar desa atau kota.

Kisah yang hanya sanggup terbayangkan karena sebagian besar sungai yang ada saat ini hanya menyisakan sampah. Masa-masa airnya banyak dan berarus deras, ya hanya saat hujan besar.

Itu pun berwarna coklat pekat, sama sekali tak menarik untuk direnangi.

Tapi kemudian, ketika satu hari akhirnya merasakan sendiri kesenangan bermain air meski melalui aktifitas berselancar dengan berpegangan erat pada ban besar, saya harus mengakui bahwa level kesenangannya memang akan selalu menarik untuk diceritakan ulang.

Nah, terus, di mana sih bisa bermain River Tubing ini di Lombok?

Uwow, ternyata sangat dekat dari tempat tinggal saya. Tepatnya di sungai Mencerit Desa Pringgasela Lombok Timur. Yup, kalau ada yang masih ingat, benar desa ini juga sentra tenun khas Lombok.

Semakin seru kan? Selain berbelanja tenunan khas yang kental dengan motif garisnya, sepagian bisa puas-puasin dulu berbasah-basah main River Tubing.

Sungai Mencerit Pringgasela Lombok Si Pemacu Adrenalin

Berkendara tak sampai setengah jam dari pusat kota Selong, Lombok Timur buat para sobat traveller yang landing di BIL, jika misal menumpang Damri bisa minta diturunkan di perempatan Masbagik.

Dari spot ini, menumpang ojek cukup membayar 20 ribuan saja.

Kembali ke trip, dua sahabat saya dari Mataram dan dua lainnya dari seputar Selong sepakat berangkat bareng dari kantor saya di pusat kota Selong. Sudah terasa sejuknya karena membayangkan segarnya berbasah-basah nanti.

Setelah memastikan setiap orang sudah mengenakan piranti jaminan keamanan selama meluncur, beramai-ramai bersama tiga pemandu dari Jejak Black Barry Adventure yang kantornya hanya lima belas meter dari tugu perempatan desa Pringgasela (samping kantor desa Pringgasela), kami bergerak menuju starting-point.

Jaraknya hanya sekitar dua puluh menit dari lokasi kantor. Turun dari mobil bak terbuka, kami saling membantu membawa ban menuju starting-point di sungai.

Informasi awal, nantinya kami akan menempuh sekitar 10 km jalur sepanjang sungai Mencerit.

Saatnya pemandu memberikan briefing singkat terakhir. Beliau mengingatkan kami semua untuk selalu relaks dan tetap hati-hati pastinya.

Pengaman siku, helm dan jaket pelampung memastikan kita cukup aman dari benturan bebatuan sungai atau resiko tenggelam. Intinya, ikutlah alur air kemana pun ia membawa hidup kita. Ahhay lagi..

Akhirnya keseruan sesungguhnya dimulai!

Sebenarnya persis di dua puluh tahun lalu saya pernah rafting di Lumajang Jawa Timur.

Dua perbedaan yang saya ingat, saat rafting saya tidak mengenakan pengaman siku, juga di rafting masing-masing orang berbekal dayung serta harus siap dan sigap lakukan gerakan dayung sesuai arahan pemandu.

Tetapi, satu tips umum yang diterapkan baik saat rafting atau pun river tubing, jika terlepas dari perahu karet atau ban, usahakan kaki diletakkan di depan mengikuti arus.

Jadi, kita tetap awas dan waspada dengan apa yang ada di hadapan. Ih, benar-benar seperti pelajaran mengarungi kehidupan yak?!

Kembali ke sungai Mencerit, dua lorong gelap yang dilintasi sudah terbentuk lama. Aslinya saluran irigasi dengan sumber mata air dari wilayah pegunungan Rinjani.

Lorong kedua yang gelap total tidak terlalu menakutkan kok. Dijamin! Masing-masing kita akan dibekali headlamp (lampu yang diikatkan di kepala).

Tapi saya menyarankan untuk coba dimatikan saja. Kenapa? Karena kita dapat merasakan sensasi berada di kegelapan total.

Sangat seru lhoooo. Koq tahu? Kembali, duluuuu sekali saya ikuti kegiatan ekstra kampus di komunitas kepecinta-alaman dan mengambil divisi caving atau gua.

Nah, di salah satu sesi pelatihan, senior meminta kita mematikan semua alat penerangan yang kita bawa untuk merasakan sensasi gelap total.

Pun perenungan untuk tumbuhkan empati pada saudara-saudara kita yang difabilitas tuna netra.

Perut sudah hangat kembali karena segelas kopi atau teh plus cemilan, waktunya lanjutkan pelayaran, eh, telusur sungai maksudnya. Uwow, kali ini sesi pendinginan.

Pemandangan serba hijau di sepanjang kiri kanan sungai yang dilewati, air terjun mini dari beberapa tebing dan yang terakhir, spot cantik epilog sempurna telusur sungai Mencerit.

Baiklah, sekarang saya sepakat dengan siapa pun yang masa kecilnya berbahagia bermain air di sungai-sungai, mereka benar!

Terhempas arus air di jeram, telusuri lorong tanah yang gelap dan hanya diterangi headlamp, nikmati pemandangan sawah yang hijau sambil hanyut santai di atas ban, kesegaran dari tubuh saya yang basah berefek ganda.

Doping semangat baru menjalani hari-hari kerja setelah wiken seru serta menyenangkan lakukan river tubing di sungai Mencerit desa Pringgasela.

Keseruan dari trip menyenangkan plus membahagiakan ini juga akan saya ceritakan pada siapa pun.

Rasanya semakin bangga, bahwa Lombok tak hanya janjikan “ekstasi” pengalaman menikmati wisata gunung di destinasi utamanya Rinjani, atau para pecinta wisata pantai atau gili.

Sekarang Lombok juga memiliki spot wisata River Tubing keren to the max!

Untuk para sobat traveler, spot ini accesible dari mana saja. Memilih bermalam nyaman di Senggigi Lombok Barat?

Bermobil sekitar satu setengah jam atau naik angkot sekitar dua sampai tiga jam (tiga kali ganti angkot, Senggigi-Ampenan, Ampenan-Bertais atau Mandalika, Mandalika – Perempatan Rempung Lombok Timur).

Ingin menjadi anak pantai dan bermalam di Kuta Lombok Tengah? Meski jarang ada moda angkot, bermotor atau naik mobil sekitar satu setengah jam, Anda akan sampai di desa Pringgasela.

Sudah sampai di puncak Anjani (Rinjani) plus pantai-pantai eksotis Lombok? Wait, Anda masih harus kembali ke Lombok untuk merasakan sensasi river tubing di Sungai Mencerit!

Yuk sobat traveller.