Wisata Religi dan Wisata Sejarah Taman Pura Mayura Lombok

November 5, 2017
3 min read

Berwisata di Lombok, khususnya kota Mataram, tidak hanya tentang mengunjungi pusat kerajinan cukli, merasakan kenikmatan kuliner khas ebatan, dan berbelanja di pusat oleh-oleh Mataram Art Zone saja. Selain itu masih banyak objek wisata sebagai pilihan. Salah satunya adalah wisata religi.

Salah satu objek wisata yang bisa menjadi pilihan adalah Taman Pura Mayura. Bukan tanpa alasan tentunya. Banyak faktor yang menyebabkan lokasi ini layak dikunjungi. Berada di lokasi yang mudah dijangkau adalah alasan utama.

Bagaimana tidak. Pura yang dibangun oleh Raja Anak Agung Anglurah Made Karangasem pada tahun 1744 ini terletak di pusat bisnis Cakranegara, Mataram. Tak heran transportasi menuju objek wisata ini sangat mudah.

Alasan lainnya adalah, di Taman Pura Mayura ini kental sekali perpaduan tiga corak berbeda, yaitu Jawa, Bali, dan Lombok. Perpaduan ketiganya menghadirkan mahakarya yang luar biasa. Terlebih hal-hal terkait sejarah akan semakin membuat Anda mengagumi tempat ini.

Tentu hal ini tidak mengherankan jika menilik kembali pada sejarah masa lalu. Pada masa saat Raja Anak Agung Ngurah Karangasem berkuasa di kerajaan Mataram memerintahkan renovasi pada sekitar tahun 1866, pura ini berubah nama menjadi Pura Mayura yang terlihat lebih menarik dari sebelumnya.

Gabungan wisata religi dan wisata sejarah tampak pada konsep unik perpaduan dari taman, taman air dan kolam, serta tempat ibadah. Hal ini menyebabkan Pura Mayura mampu menghadirkan nuansa alami yang asri, nuansa religi yang damai, dan sejarah yang berharga.

Sisi Lain Taman Pura Mayura

Pura Mayura merupakan bukti sejarah kekuasaan kerajaan Bali di Lombok. Awalnya tempat ini dinamakan Taman Klepug yang diambil dari suara air yang jatuh ke kolam.

Pada masa itu, tempat tersebut masih dipenuhi oleh ular yang meresahkan masyarakat yang melakukan doa di kawasan tersebut. Atas saran beberapa penasehat, dipeliharalah burung merak di kawasan tersebut.

Terbukti keberadaan burung merak sanggup mengusir ular-ular yang berkeliaran. Kejadian tersebut akhirnya menjadi dasar perubahan nama dari Taman Klepug menjadi Taman Pura Mayura. Mayura sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘burung merak’.

Memasuki area Taman Pura Mayura, setelah membayar retribusi sebesar Rp5.000,00, Anda akan disambut dengan keindahan pemandangan taman yang luas. Deretan pohon manggis di sepanjang jalan masuk dari paving block memberikan kesan asri dan teduh.

Bukan itu saja. Beberapa langkah dari pintu masuk di sebelah barat, Anda akan menyaksikan kemegahan sebuah bukti sejarah. Sebuah kolam luas dengan sebuah rumah di tengahnya.

Tempat yang dikenal dengan nama ‘Bale Kambang’ atau ‘Rat Kerte’ atau ‘Gili’ tersebut digunakan untuk berkumpul, melakukan rapat atau pertemuan, dan juga menyambut tamu kerajaan. Selain itu, masih ada fasilitas lainnya di sini, yaitu Bale Loji dan Bale Pererenan.

Tak jauh dari bale kambang ini, Anda dapat menyaksikan kemegahan bangunan di sebelah kiri. Bangunan ini adalah Pura Jagat Natha Mayura. Dalam pura ini terdapat empat pura utama, yaitu Pura Gunung Rinjani, Pura Ngelurah, Pura Padmasana, dan Pura Gedong.

Sungguh sebuah keunikan yang layak dikunjungi!

Namun tunggu dulu! Bukan itu saja. Mengunjungi Taman Pura Mayura yang dikepung pusat perbelanjaan, membuat Anda bisa menemukan keuntungan lainnya. Tak jauh dari objek wisata religi ini terdapat Pasar Cakranegara.

Di sini, Anda bisa berbelanja oleh-oleh atau suvenir khas Lombok seperti kaus, gantungan kunci, kain tenun, dll.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari berwisata religi!