Tradisi Lombok: Perang Api, Perang Damai untuk Umat di Bumi

Agustus 9, 2017
4 min read

Seperti yang umumnya kita ketahui, perang biasanya identik dengan dendam dan kematian. Namun hal itu jauh berbeda  jika dibandingkan dengan perang yang satu ini.

Namanya perang api, sebuah tradisi yang dilakukan oleh umat hindu di Lombok yang merupakan rangkaian acara untuk menyambut hari raya nyepi yang dilakukan hanya satu kali dalam setahun dan sudah dilakukan secara turun temurun.

Perang api melibatkan umat hindu antar dua kubu yaitu warga di Lingkungan Negara Sakah dan Sweta, Mataram.

Pada tahun 2014 lalu, saya berkesempatan untuk menyaksikan ritual budaya tersebut.  Tepatnya berlokasi di Tugu Tani, Jalan Selaparang, Cakranegara, Kota Mataram.

Ribuan warga yang berasal dari berbagai daerah di Lombok, luar Lombok hingga luar negeri  pun berkumpul untuk menyaksikan perang api. Setiap tahun dalam penyelenggaraannya, perang api ini memang banyak menyedot perhatian masyarakat.

Sore itu, kedua kubu yang akan berperang sudah bersiap-siap dengan senjata mereka yaitu bobok. Bobok merupakan sebutan untuk daun kelapa kering yang disatukan berbentuk ikatan sapu.

Inilah yang menjadi senjata utama yang digunakan dalam perang api. Sesaat sebelum perang pecah, warga kedua kubu tampak saling berhadapan dan bersiap-siap dengan senjata mereka.

Kedua kubu yaitu warga di Lingkungan Negara Sakah dan Sweta, Mataram, saling berhadapan bersiap-siap untuk berperang.

Ribuan warga hingga sejumlah media lokal, nasional hingga luar negeri pun terlihat begitu tak sabar menunggu menyaksikan peperangan ini. Seperti halnya tegang menuggu sebuah pertandingan dimulai, ribuan pasang mata pun menunggu momen pecah ini.

Begitupun saya yang untuk kali pertamanya berkesempatan menyaksikan langsung perang api. Rasanya tegang dan agak menyeramkan.

Ditengah-tengah kedua kubu saya sudah siap dengan badan yang kecil serta sebuah handycam kecil juga ditangan. Saya disergap rasa antusias dan ngeri dalam waktu yang bersamaan.

Membayangkan bahwa sedikit saja lengah, dalam sekejap badan saya yang kecil inipun bisa saja tersungkur, terjepit, bahkan terinjak diantara ribuan orang.

Bagaimana tidak merasa ngeri, saya dikelilingi oleh warga yang sedang akan berperang dengan badan mereka yang terlihat begitu kokohnya, serta berada diantara ribuan warga dan media yang menyaksikan saat itu.

Bobok pun kemudian dibakar. Peluit pun terdengar. Pertanda perang dimulai. Saling serang antar kedua kubu pun tak terhindarkan. Bobok yang sudah terbakar api sebagai senjata ditebaskan pada badan lawan.

Suasana semakin menegangkan. Tepat didepan mata saya, beberapa detik awal perang saya masih bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi.

Namun beberapa detik selanjutnya sontak saya pun terseok-seok, terhimpit, terombang ambing dengan handycam ditangan yang sudah kehilangan fokus untuk merekam akibat tersenggol warga sekitar yang menyaksikan dan juga merekam perang api.

Beruntung saya bersama kakak disitu yang tetap menjaga saya dan kamera agar fokus merekam kejadian. Suasana pun kacau. Udara memanas. Api dimana-mana.

Abu akibat bobok yang terbakar bertebaran dan asap pekat menghalangi pandangan. Samar-samar dalam pekatnya asap dan abu serta ditengah orang-orang yang saling dorong saya melihat bagaimana menyeramkan dan menegangkannya kejadian itu.

Hanya dalam beberapa menit saja perang usai. Rasanya sekejap saja. Saya melihat sekeliling, bobok bekas perang api dan abu bertebaran dilokasi. Saya melihat kedua kubu pun mulai saling menjauh dan kondisi kian kondusif.

Sementara saya masih gemetar akibat baru saja menyaksikan perang yang tampak seperti pertarungan sungguhan di medan perang. Diantara rasa percaya dan tidak, saya dan kakak saya bisa bertahan diantara kerumunan orang dan kekacauan perang api saat itu.

Kami pun menepi sejenak merapikan diri yang sudah tidak serapih saat baru datang sebelum perang dimulai.

Lebih jauh tentang perang api itu sendiri,  bagi umat hindu perang api yang dilakukan ini bukanlah tanpa makna .

Lebih dalam perang api mempunyai makna untuk membersihkan bumi dari segala malapetaka yang terjadi, serta membersihkan diri dari segala unsur -unsur jahat  yang ada dalam diri manusia sebelum melakukan tapa brata penyepian. 

Saling serang menggunakan api menggambarkan pembakaran hawa nafsu buruk yang ada pada diri manusia agar benar-benar suci sebelum memulai acara nyepi.

It was such a great exprience bisa menyaksikan langsung perang api, tradisi umat hindu yang penuh makna. Tradisi perang api ini biasanya dilaksanakan pada bulan Maret, lebih tepatnya setelah pawai ogoh-ogoh sehari sebelum nyepi dilaksanakan.

Oleh karena itu bagi yang ingin menyaksikan dan merasakan langsung pengalaman berperang don’t forget to save the date and visit Lombok, mate!